PEPETI dan Peran Pemuda Tionghoa dalam Merawat Kebangsaan Indonesia

PEPETI dan Peran Pemuda Tionghoa dalam Merawat Kebangsaan Indonesia

1dtk.com - Di tengah dinamika Indonesia yang terus bergerak, ada satu organisasi kepemudaan yang memilih jalan kerja nyata dan kolaborasi lintas sektor. Perhimpunan Pemuda Tionghua Indonesia atau PEPETI hadir sebagai ruang berkumpul sekaligus ruang belajar bagi generasi muda Tionghoa yang ingin berkontribusi bagi bangsa. Fokusnya tidak sempit, karena isu kebangsaan memang tidak pernah satu warna.

PEPETI berdiri dengan kesadaran bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman. Sejarah panjang bangsa ini, sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, menjadi fondasi nilai yang terus dijaga. Semangat persatuan itu diterjemahkan PEPETI ke dalam kerja organisasi yang menyentuh sosial, budaya, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Organisasi ini beroperasi secara nasional dan menghubungkan pemuda Tionghoa dari berbagai daerah. Mereka tidak berhenti di wacana. Kegiatan yang dijalankan sengaja dirancang agar bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Dari sinilah PEPETI pelan pelan membangun kepercayaan publik, bukan lewat slogan, tapi lewat kehadiran.

Aktivitas Sosial yang Menyentuh Akar Masalah

Salah satu wajah paling terlihat dari PEPETI adalah aktivitas sosialnya. Kegiatan bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan, dan panti jompo rutin dilakukan di berbagai wilayah. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar klise. Namun di lapangan, dampaknya terasa nyata.

Kegiatan sosial ini bukan hanya tentang memberi bantuan materi. Nilai empati dan solidaritas sengaja ditanamkan kepada anggota, terutama generasi muda yang hidup di era serba cepat. Interaksi langsung dengan masyarakat membuat banyak anggota sadar bahwa persoalan sosial tidak sesederhana unggahan media sosial. Ada konteks, ada manusia, ada cerita panjang di baliknya.

Dalam beberapa kegiatan, PEPETI juga melibatkan relawan lokal dan organisasi lain. Pola kolaboratif ini penting karena persoalan sosial tidak bisa diselesaikan sendirian. Di titik ini, organisasi terlihat tidak ingin menjadi menara gading. Mereka turun, belajar, dan kadang juga merasa frustrasi karena hasilnya tidak selalu instan.

Ruang Intelektual dan Kepemimpinan untuk Pemuda

Di luar kerja sosial, PEPETI memberi perhatian besar pada pengembangan kapasitas intelektual. Seminar, forum diskusi, dan pelatihan rutin digelar dengan topik yang beragam. Isu kebangsaan, ekonomi, sosial, hingga budaya dibahas dengan pendekatan yang membumi.

Tujuannya jelas, membentuk pemuda yang kritis dan berani berpikir. Bukan tipe yang hanya ikut arus. Dalam beberapa forum, perdebatan bahkan dibiarkan mengalir, selama tetap dalam koridor saling menghargai. Dari sini terlihat bahwa organisasi tidak alergi terhadap perbedaan pandangan.

Program e learning juga menjadi salah satu fokus. Pendidikan berbasis digital dianggap relevan dengan tantangan zaman. Melalui pelatihan daring, anggota dari daerah bisa tetap mengakses materi tanpa harus datang ke pusat. Materinya pun praktis, mulai dari kewirausahaan, penguatan karakter, sampai pengembangan kompetensi kerja.

Struktur Departemen yang Luas dan Fungsional

PEPETI memiliki 22 departemen aktif yang mencerminkan luasnya cakupan isu yang digarap. Ada departemen lingkungan hidup dan kehutanan, pertanian dan ketahanan pangan, kesehatan dan sosial, hingga ketenagakerjaan. Struktur ini membuat kerja organisasi lebih terarah.

Setiap departemen diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap struktur. Mereka didorong menyusun program kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah. Pendekatan ini membuat PEPETI sering terlibat dalam dialog dengan berbagai pihak, termasuk instansi negara dan organisasi masyarakat sipil.

Menariknya, keberadaan departemen penelitian dan pengembangan memberi warna tersendiri. Data dan kajian dijadikan dasar sebelum program dijalankan. Walau belum sempurna, langkah ini menunjukkan upaya serius agar kegiatan tidak asal jalan. Kadang memang ribet, tapi dampaknya terasa lebih terukur.

Fokus Program dan Kolaborasi Ekonomi

Dalam program kerja nyatanya, PEPETI menetapkan tiga sasaran utama. Salah satunya membuka peluang kemitraan dengan pelaku UMKM. Kolaborasi ini dipandang strategis karena ekonomi kreatif menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan nasional.

Melalui program business partner, anggota didorong untuk terlibat langsung mendukung usaha kecil. Bentuknya beragam, dari pendampingan, promosi, sampai penguatan jaringan. Tidak semua langsung sukses, bahkan ada yang gagal. Tapi proses belajar itulah yang dianggap penting.

PEPETI juga menempatkan pelayanan masyarakat sebagai fokus. Melayani di sini bukan sekadar membantu, tapi hadir dan mendengar. Pendekatan ini membuat organisasi lebih peka terhadap kebutuhan riil di lapangan. Dalam banyak kasus, solusi sederhana justru lahir dari obrolan santai bersama warga.

Menjaga Identitas, Merawat Kebangsaan

Sebagai organisasi pemuda Tionghoa, PEPETI berada di posisi yang unik. Identitas etnis tidak ditanggalkan, tapi juga tidak dijadikan pembatas. Justru dari identitas itu, kontribusi bagi Indonesia ingin diperkuat.

Kegiatan budaya dan edukasi diarahkan untuk memperkaya kebudayaan nasional. Barongsai, naga, dan tradisi Tionghoa lainnya ditempatkan sebagai bagian dari mozaik Indonesia. Bukan milik satu kelompok saja. Pendekatan ini penting di tengah meningkatnya polarisasi sosial.

Dalam praktiknya, tidak semua berjalan mulus. Ada tantangan internal, ada juga skeptisisme dari luar. Namun konsistensi kerja perlahan menjawab keraguan itu. Organisasi belajar dari kesalahan, memperbaiki pendekatan, dan terus bergerak.

PEPETI hari ini memperlihatkan bahwa pemuda bisa mengambil peran strategis tanpa harus menunggu posisi formal. Melalui kerja sosial, pendidikan, dan kolaborasi, mereka menunjukkan bentuk nasionalisme yang relevan dengan zaman. Tidak heroik, tapi nyata. Tidak berisik, tapi berdampak.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال